Showing posts with label pendidikan. Show all posts
Showing posts with label pendidikan. Show all posts

Apakah Seminar itu? Sama atau Bedakah dengan Workshop?



Apabila anak-anak mendengar istilah seminar atau workshop sudah pasti sudah dapat membayangkan bahwa kegiatan tersebut pasti dilakukan dengan melibatkan banyak orang, dimana ada sebagian orang yang mengikuti sebagai peserta dan beberapa orang menjadi pembicara, pemberi materi atau disebut narasumber. Mungkin di sinilah kita menemukan kesamaan dari kedua kata tersebut.

Lalu, dimanakah letak bedanya antara kedua kata tersebut?
Seminar dan Workshop memiliki perbedaan yang dapat dikenali dalam hal tujuan dan sebagian dalam cara serta waktu pelaksanaannya. 

Dalam hal tujuan seminar biasanya diadakan untuk menyampaikan informasi baru atau informasi pelengkap kepada semua peserta agar peserta mendapatkan sejumlah informasi yang penting dari sumber yang dipercaya kepada semua pesertannya. Sedangkan workshop biasanya lebih dari itu, di dalam acaranya peserta bukan hanya menerima sejumlah informasi baru atau informasi pelengkap tetapi peserta juga akan bekerja bersama-sama secara terpadu dengan peserta lain untuk menemukan dan menyelesaikan masalah hingga mendapatkan hasil yang akan digunakan selanjutnya oleh kelompok, organisasi atau seluruh pesertannya.




Terhubung dengan tujuan maka di dalam pelaksanaannya seminar umumnya membutuhkan waktu yang lebih singkat dari workshop. Apabila seminar dapat berlangsung dalam beberapa menit atau beberapa jam di dalam satu hari, sebaliknya workshop dapat berlangsung beberapa hari, misalnya dapat belrlangsung tiga hingga tujuh hari bahkan lebih tergantung dengan jenis dan tingkat kesulitannya.

Dibawah ini adalah sebuah contoh seminar pendidikan. Seminar yang dapat dilakukan untuk menyampaikan paparan atau sajian tentang pendidikan; Diadakan secara langsung bersama-sama di dalam satu tempat atau ruang yang sama, baik itu ruangan nyata atau yang dilakukan dari jarak jauh menggunakan basis web atau aplikasi, sehingga semua peserta bertemu di dalam satu ruang virtual. Biasanya hal serupa, juga sering dinamai webinar.


>>

AKU YANG DIKASIHI




Bina Praremaja dan Retret
31 MARET 2022 - 1 APRIL 2022  DI SD FRANSISKUS 2

Sejak kecil individu telah dipengaruhi dan dibentuk oleh pengalaman yang dijumpaidalam hubungannya dengan individu lain, terutama dengan orang-orang terdekat, maupunyang didapatkan dalam peristiwa-peristiwa kehidupan. Sejarah hidup individu dari masa laludapat membuat dirinya memandang diri lebih baik atau lebih buruk dari kenyataansebenarnya (Centi, 1993).

Lingkungan, pengalaman dan pola asuh orang tuaturut memberikan pengaruh yang signifikan terhadap konsep diri yang terbentuk.Sikap atau respon orang tua dan lingkungan akan menjadi bahan informasi bagi anak untuk menilai siapa dirinya. Oleh sebab itu, seringkali anak-anak yang tumbuh dandibesarkan dalam pola asuh yang keliru dan negatif, ataupun lingkungan yang kurangmendukung, cenderung mempunyai konsep diri yang negatif. Hal ini disebabkansikap orang tua yang misalnya: suka memukul, mengabaikan, kurang memperhatikan,melecehkan, menghina, bersikap tidak adil, tidak pernah memuji, suka marah-marah,dan sebagainya dianggap sebagai hukuman akibat kekurangan, kesalahan atau pun kebodohan dirinya.




Team Rumah Retret Laverna berkenan hadir bagi anak-anak terkasi tepat di akhir Maret dan awal April 2020 dimana PTM telah dibuka dan sekolah telah diberikan ijin PTM (Pelajaran Tatap Muka) sebagai ruang berinteraksi langsung dengan peserta didik; Mereka telah meluangkan waktu bersama keluarga besar SD Fransiskus 2 Rawalaut memberi perhatian akan tumbuh kembang anak-anak kita, khususnya untuk sesi ini mereka yang telah memasuki usia remaja yakni mereka yang duduk di kelas 6. Walaupun acara yang pada kondisi umumnya diberikan dalam tiga hari untuk tahun ini diberikan hanya dalam satu hari penuh. Dengan berbagai pertimbangan kami tetap memandang lebih baik bagi mereka mendapatkan hal ini dalam porsi terbatas daripada tidak mendapatkan sama sekali. Dengan didukung para orang tua, juga dihadiri dalam beberap sesi somoga hal ini mampu menuju yang utama yakni menuntun mereka semakin menemukan arti dirinya juga keluarganya juga memberi tenaga tambahan dalam menghadapi agenda-agenda ujian yang sudah dekat.
Selamat beracara dengan semangat terus berdinamika bersama teman-teman dan para pembimbing.




Hasil Latihan Mulok Kelas 1, 2 dan 3


Pada pekan kedua Oktober ini adik-adik kelas satu, dua dan tiga berlatih untuk mengerjakan latihan soal muatan lokal ,materi pelajaran B.Inggris Unit 3. 

Berikut adalah lampiran hasil dari anak-anak yang sudah mencoba mengerjakan dan mengirimkan. Karena ini baru latihan maka tidak perlu menjadi kekawatiran untuk anak-anak, yang belum tercantum namanya di dalam tabel di bawan ini.

Yang menjadi penting dengan pendampingan orang tua, maka kalian semakin tahu dan dapat mencoba mengerjakan latihan tersebut dan kedepannya dapat menjawab atau mengerjakan latihan - demi latihan yang demikian secara mandiri dan terasa semakin mudah. Tanggal pada tabel adalah tanggal pengiriman tugas.

Lampiran Nilai :

Kelas 1A    1B   1C    1D       

 

Kelas 2A  2B  2C  2D :



Kelas  3A 3B  3C  3D


Selamat untuk prestasi, atau pencapaian kalian di atas, yang menunjukkan keseriusan dalam mencoba banyak hal.

Pahlawan Pendidikan


Terdapat  Tokoh-Tokoh Pendidikan Nasional yang berperan aktif serta berkiprah dalam memperjuangkan pendidikan, terutama pendidikan bagi kaum pribumi. Patung tokoh pahlawan pendidikan lengkap dengan biografinya tertera mempunyai gagasan bahkan menciptakan sekolah-sekolah juga beberapa buku.

Adapun Tokoh Pahlawan Pendidikan tersebut dua diantaranya adalah :

1. Kiai Haji Ahmad Dahlan

Kiai Haji Ahmad Dahlan adalah Sang Penggagas lahirnya Persyarikatan Muhammadiyah pada 8 Dzulhijjah 1330 Hijriyah bertepatan dengan 18 November 1912.

 

Kyai Haji Ahmad Dahlan atau Muhammad Darwis lahir di Yogyakarta, 1 Agustus 1868, meninggal di Yogyakarta, 23 Februari 1923 pada umur 54 tahun, beliau adalah seorang Pahlawan Nasional Indonesia. Ia adalah putera keempat dari tujuh bersaudara dari keluarga K.H. Abu Bakar. KH Abu Bakar adalah seorang ulama dan khatib terkemuka di Masjid Besar Kasultanan Yogyakarta pada masa itu, dan ibu dari K.H. Ahmad Dahlan adalah puteri dari H. Ibrahim yang juga menjabat penghulu Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat pada masa itu.

 

Muhammad Darwisy dilahirkan dari kedua orang tua yang dikenal sangat alim, yaitu KH. Abu Bakar (Imam Khatib Mesjid Besar Kesultanan Yogyakarta) dan Nyai Abu Bakar (puteri H. Ibrahim, Hoofd Penghulu Yogyakarta).

Pada tahun 1912, Ahmad Dahlan pun mendirikan organisasi Muhammadiyah untuk melaksanakan cita-cita pembaruan Islam di bumi Nusantara. Ahmad Dahlan ingin mengadakan suatu pembaruan dalam cara berpikir dan beramal menurut tuntunan agama Islam. la ingin mengajak umat Islam Indonesia untuk kembali hidup menurut tuntunan al-Qur'an dan al-Hadits. Perkumpulan ini berdiri bertepatan pada tanggal 18 November 1912. Dan sejak awal Dahlan telah menetapkan bahwa Muhammadiyah bukan organisasi politik tetapi bersifat sosial dan bergerak di bidang pendidikan.

 

Selain aktif dalam menggulirkan gagasannya tentang gerakan dakwah Muhammadiyah, ia juga dikenal sebagai seorang wirausahawan yang cukup berhasil dengan berdagang batik yang saat itu merupakan profesi wiraswasta yang cukup menggejala di masyarakat.

 

Ia dikukuhkan sebagai pahlawan nasional yang ke-11 pada 27 Desember 1961 melalui Keppres No. 657 Tahun 1961. (Baca selengkapnya di: "Biografi Kyai Haji Ahmad Dahlan - Penggagas Lahirnya Muhammadiyah")

 

2. Ki Hajar Dewantara

Ki Hajar Dewantara adalah tokoh pahlawan nasional yang  lahir di Yogyakarta, 2 Mei 1889 yang meninggal di Yogyakarta, 26 April 1959 pada umur 69 tahun. Sebelum tahun 1922 namanya adalah Raden Mas Soewardi Soerjaningrat (EYD: Suwardi Suryaningrat).

 

Ki Hajar Dewantara atau biasa disingkat sebagai "Soewardi" atau "KHD" adalah aktivis pergerakan kemerdekaan Indonesia, kolumnis, politisi, dan pelopor pendidikan bagi kaum pribumi Indonesia dari zaman penjajahan Belanda. Ia adalah pendiri Perguruan Taman Siswa, suatu lembaga pendidikan yang memberikan kesempatan bagi para pribumi jelata untuk bisa memperoleh hak pendidikan seperti halnya para priyayi maupun orang-orang Belanda.

 

Tanggal kelahirannya sekarang diperingati di Indonesia sebagai Hari Pendidikan Nasional. Bagian dari semboyan ciptaannya, tut wuri handayani, menjadi slogan Kementerian Pendidikan Nasional Indonesia. Namanya diabadikan sebagai salah sebuah nama kapal perang Indonesia, KRI Ki Hajar Dewantara. Potret dirinya diabadikan pada uang kertas pecahan 20.000 rupiah tahun emisi 1998.

 

Ia dikukuhkan sebagai pahlawan nasional yang ke-2 oleh Presiden RI, Soekarno, pada 28 November 1959 (Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 305 Tahun 1959, tanggal 28 November 1959).

 

Masa muda dan awal karier

 

Soewardi berasal dari lingkungan keluarga Keraton Yogyakarta. Ia menamatkan pendidikan dasar di ELS (Sekolah Dasar Eropa/Belanda). Kemudian sempat melanjut ke STOVIA (Sekolah Dokter Bumiputera), tapi tidak sampai tamat karena sakit. Kemudian ia bekerja sebagai penulis dan wartawan di beberapa surat kabar, antara lain, Sediotomo, Midden Java, De Expres, Oetoesan Hindia, Kaoem Moeda, Tjahaja Timoer, dan Poesara. Pada masanya, ia tergolong penulis handal. Tulisan-tulisannya komunikatif dan tajam dengan semangat antikolonial.

 

 

 

 

 

Aktivitas pergerakan

 

Selain ulet sebagai seorang wartawan muda, ia juga aktif dalam organisasi sosial dan politik. Sejak berdirinya Boedi Oetomo (BO) tahun 1908, ia aktif di s3ksi propaganda untuk menyosialisasikan dan menggugah kesadaran masyarakat Indonesia (terutama Jawa) pada waktu itu mengenai pentingnya persatuan dan kesatuan dalam berbangsa dan bernegara. Kongres pertama BO di Yogyakarta juga diorganisasi olehnya.

Soewardi muda juga menjadi anggota organisasi Insulinde, suatu organisasi multietnik yang didominasi kaum Indo yang memperjuangkan pemerintahan sendiri di Hindia Belanda, atas pengaruh Ernest Douwes Dekker (DD). Ketika kemudian DD mendirikan Indische Partij, Soewardi diajaknya pula.

Sewaktu pemerintah Hindia Belanda berniat mengumpulkan sumbangan dari warga, termasuk pribumi, untuk perayaan kemerdekaan Belanda dari Perancis pada tahun 1913, timbul reaksi kritis dari kalangan nasionalis, termasuk Soewardi. Ia kemudian menulis "Een voor Allen maar Ook Allen voor Een" atau "Satu untuk Semua, tetapi Semua untuk Satu Juga". Namun kolom KHD yang paling terkenal adalah "Seandainya Aku Seorang Belanda" (judul asli: "Als ik een Nederlander was"), dimuat dalam surat kabar De Expres pimpinan DD, 13 Juli 1913. Isi artikel ini terasa pedas sekali di kalangan pejabat Hindia Belanda. Kutipan tulisan tersebut antara lain sebagai berikut.

 Sekiranya aku seorang Belanda, aku tidak akan menyelenggarakan pesta-pesta kemerdekaan di negeri yang telah kita rampas sendiri kemerdekaannya. Sejajar dengan jalan pikiran itu, bukan saja tidak adil, tetapi juga tidak pantas untuk menyuruh si inlander memberikan sumbangan untuk dana perayaan itu. Ide untuk menyelenggaraan perayaan itu saja sudah menghina mereka, dan sekarang kita keruk pula kantongnya. Ayo teruskan saja penghinaan lahir dan batin itu! Kalau aku seorang Belanda, hal yang terutama menyinggung perasaanku dan kawan-kawan sebangsaku ialah kenyataan bahwa inlander diharuskan ikut mengongkosi suatu kegiatan yang tidak ada kepentingan sedikit pun baginya.

Beberapa pejabat Belanda menyangsikan tulisan ini asli dibuat oleh Soewardi sendiri karena gaya bahasanya yang berbeda dari tulisan-tulisannya sebelum ini. Kalaupun benar ia yang menulis, mereka menganggap DD berperan dalam memanas-manasi Soewardi untuk menulis dengan gaya demikian.

Akibat tulisan ini ia ditangkap atas persetujuan Gubernur Jenderal Idenburg dan akan diasingkan ke Pulau Bangka (atas permintaan sendiri). Namun demikian kedua rekannya, DD dan Tjipto Mangoenkoesoemo, memprotes dan akhirnya mereka bertiga diasingkan ke Belanda (1913). Ketiga tokoh ini dikenal sebagai "Tiga Serangkai". Soewardi kala itu baru berusia 24 tahun.

 

 

 

 

Dalam pengasingan

 

Dalam pengasingan di Belanda, Soewardi aktif dalam organisasi para pelajar asal Indonesia, Indische Vereeniging (Perhimpunan Hindia).

Di sinilah ia kemudian merintis cita-citanya memajukan kaum pribumi dengan belajar ilmu pendidikan hingga memperoleh Europeesche Akte, suatu ijazah pendidikan yang bergengsi yang kelak menjadi pijakan dalam mendirikan lembaga pendidikan yang didirikannya. Dalam studinya ini Soewardi terpikat pada ide-ide sejumlah tokoh pendidikan Barat, seperti Froebel dan Montessori, serta pergerakan pendidikan India, Santiniketan, oleh keluarga Tagore. Pengaruh-pengaruh inilah yang mendasarinya dalam mengembangkan sistem pendidikannya sendiri.

 

Taman Siswa

Soewardi kembali ke Indonesia pada bulan September 1919. Segera kemudian ia bergabung dalam sekolah binaan saudaranya. Pengalaman mengajar ini kemudian digunakannya untuk mengembangkan konsep mengajar bagi sekolah yang ia dirikan pada tanggal 3 Juli 1922: Nationaal Onderwijs Instituut Tamansiswa atau Perguruan Nasional Tamansiswa. Saat ia genap berusia 40 tahun menurut hitungan penanggalan Jawa, ia mengganti namanya menjadi Ki Hadjar Dewantara. Ia tidak lagi menggunakan gelar kebangsawanan di depan namanya. Hal ini dimaksudkan supaya ia dapat bebas dekat dengan rakyat, baik secara fisik maupun jiwa.

Semboyan dalam sistem pendidikan yang dipakainya kini sangat dikenal di kalangan pendidikan Indonesia. Secara utuh, semboyan itu dalam bahasa Jawa berbunyi ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani. ("di depan memberi contoh, di tengah memberi semangat, di belakang memberi dorongan"). Semboyan ini masih tetap dipakai dalam dunia pendidikan rakyat Indonesia, terlebih di sekolah-sekolah Perguruan Tamansiswa.

 

Pengabdian pada masa Indonesia merdeka

Dalam kabinet pertama Republik Indonesia, KHD diangkat menjadi Menteri Pengajaran Indonesia (posnya disebut sebagai Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan) yang pertama. Pada tahun 1957 ia mendapat gelar doktor kehormatan (doctor honoris causa, Dr.H.C.) dari universitas tertua Indonesia, Universitas Gadjah Mada. Atas jasa-jasanya dalam merintis pendidikan umum, ia dinyatakan sebagai Bapak Pendidikan Nasional Indonesia dan hari kelahirannya dijadikan Hari Pendidikan Nasional (Surat Keputusan Presiden RI no. 305 tahun 1959, tanggal 28 November 1959).

 

Ia meninggal dunia di Yogyakarta tanggal 26 April 1959 dan dimakamkan di Taman Wijaya Brata. (sumber: Wikipedia bahasa Indonesia - Ensiklopedia bebas)

Lomba SD swasta Katolik dan Kristen Se-LAMPUNG

DAFTAR PEMENANG LOMBA MATA PELAJARAN TINGKAT SD SWASTA KATOLIK-KRISTEN TAHUN 2008.
TEMPAT DI SD XAVERIUS PANJANG, BANDAR LAMPUNG
===============================================================
BAHASA INGGRIS :
Juara 1 : SD Fransiskus 1 Bandar Lampung
Juara 2 : SD Xaverius Metro
Juara 3 : SD Fransiskus 2 Bandar Lampung

PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN
Juara 1 : SD Xaverius Paanjang
Juara 2 : SD Fransiskus 1 Bandar Lampung
Juara 3 : SD Fransiskus 2 BANDAR Lampung

MATEMATIKA
Juara 1 : SD Fransiskus 2 Bandar Lampung
Juara 2 : SD Xaverius 1 Telukbetung
Juara 3 : SD Fransiskus 1 Bandar Lampung

MELUKIS
Juara 1 : SD Fransiskus 2 Bandar Lampung
Juara 2 : SD Xaverius Panjang
Juara 3 : SD Fransiskus 2 Bandar Lampung

yang lain..... tunggu ya,belum selesai!