Transformasi Karakter Peserta Didik: Sebuah Catatan Guru

 Saya TIDAK KENAL anak saya lagi!”


Ucap seorang ibu pada saat pembagian raport. Sontak saya kaget dan bertanya-tanya apa maksud dari perkataan ibu ini.


“Anak saya dulu tidak peduli dengan pembagian raport, tapi hari ini dia bersikeras meminta saya segera berangkat ambil raport” kata ibu itu lagi


“Tunggu sebentar Bu, saya tidak mengerti apa maksud perkataan ibu.”


Ibu itu tersenyum lalu bercerita panjang lebar tentang anaknya yg berubah.

—---------

Berubah lebih baik. Syukurlah dalam hati saya lega.


Dia bercerita bahwa anaknya sekarang semangat berangkat sekolah, mandiri dalam menyiapkan buku, bahkan bisa ikut mengajari adiknya belajar.


Anak satu ini, sebut saja namanya Frans. Frans adalah anak yang dikatai “caper” oleh teman-temannya karena sering mengungkapkan hal absurd dan berprilaku nyeleneh di kelas. Selain itu dia juga malas belajar dan kerap mendapat nilai buruk

—---

Awal mula Frans belajar di kelas saya, saya merasa ada hal yang menarik dari dirinya.

Sepertinya perkataannya yang absurd lahir dari banyaknya tanya yang tak terjawab dan input informasi yang tidak terverifikasi.

Pernah di kelas dia menyeletuk “buat apa sih ngerjain soal banyak begini? Sekolah ini kan scam” katanya lantang.

—---

Mendengar perkataannya saya tidak marah. Saya tahu bahwa itu berasal dari salah satu Influencer terkenal yaitu Timothy Ronald.

Alih-alih marah, saya justru menjelaskan ke seisi kelas bahwa yang dikatakan Frans itu sebenarnya ada sejarahnya, yakni sejarah pendidikan modern. Ternyata Frans dan seisi kelas menjadi antusias mendengarkan dan seolah mereka mendapatkan pencerahan dari pengetahuan yg baru ini.

—-

saya akhirnya membuat sesi tanya jawab di kelas setiap hari Jumat. 

Pertanyaan mengalir deras dari anak-anak,termasuk Frans. Saya merasa senang karena ternyata mereka sangat kritis dan punya pengamatan yang tajam terhadap fenomena yang terjadi di sekitar mereka.

—----

Setelah itu terjadi hal yang sangat luar biasa. Semangat belajar mereka meningkat, nilai rata-rata kelas naik. Frans yg tadinya sering membuat sebal teman dan ibunya di rumah, kini berubah menjadi anak yang semangat belajar, mampu bertanggung jawab dan membantu orangtua.

Kenapa hal ini bisa terjadi?

Sebenarnya ini membuktikan bahwa anak-anak perlu didengar. Mereka butuh telinga kita yang terbuka, mendengarkan segala tanya dan keluh kesahnya. Di setiap akhir sesi tanya jawab saya memberikan pesan singkat pada mereka.

—---------

“Hari ini ilmu pengetahuan kalian bertambah. Tapi tidak ada gunanya jika kalian makin banyak tahu, namun tidak bisa berubah lebih baik. Hari esok harus jadi lebih baik dari hari ini, yang kamu pelajari hari ini, semestinya membentuk pribadimu yang lebih baik esok hari” begitu kata-kata saya memotivasi Frans dan teman-temannya.


“Jika bapak yang adalah gurumu mau mendengarkanmu, maka kamu juga, dengarkanlah nasehat orangtuamu dan perhatikan apa yg dikatakan gurumu, siapapun itu, karena mereka selalu ingin yang terbaik bagi kalian” tutup saya setelah sesi tanya jawab usai.

—----------

Kembali ke pembagian raport.


Frans dan ibunya menerima raport dengan rasa bangga.

Frans tidak lagi diomeli, namun mendapatkan senyum manis ibunya karena perubahan sikapnya yang lebih baik.

“Terima kasih pak sudah mau mendengarkan saya, tidak ngejudge saya dan selalu memberikan saya kesempatan untuk tampil. Walaupun jawaban saya sering salah, namun bapak mau mendengar dan kata-kata dari bapak selalu menjadi motivasi buat saya” kata Frans di hari itu.


Saya menjawab, “kamulah yang berhasil merubah dirimu sendiri, tanpa niatmu sendiri kamu tidak mungkin berubah”

—-------------------

Dan itulah kisah yang sungguh berkesan bagi saya.

Saat mendengarkan bisa menjadi solusi dari bisingnya ruang kelas.

Saat memahami menjadi tonggak perubahan seorang siswa

Dan saat 

berdialog menjadi kunci kemajuan pembelajaran